BERITA

Amran Sebut Ekspor Sawit RI Tembus 32 Juta Ton pada 2025

Editor Utama 31 Maret 2026 3 menit baca
CENDEKIA MEDIA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan ekspor kelapa sawit Indonesia melonjak signifikan pada 2025. Ternyata, volumenya naik 6 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya hingga menembus 32 juta ton.

Kenaikan ini disebut berkaitan dengan kebijakan hilirisasi dan dorongan biofuel yang memengaruhi harga global serta produksi dalam negeri.

"Ekspor kita naik 6 juta ton sawit. 2025 (tembus) 32 juta ton. Dulu 26 juta ton, naik 6 juta ton," ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (30/3).

Amran menjelaskan lonjakan ekspor sawit tersebut tak lepas dari dampak kebijakan biofuel yang turut memengaruhi dinamika pasar global.

Menurutnya, ketika sebagian pasokan sawit dialihkan untuk kebutuhan energi dalam negeri, ketersediaan di pasar ekspor menjadi lebih terbatas.

Kondisi ini mendorong harga sawit dunia meningkat, yang pada akhirnya memberi insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. Dari situ, terjadi kenaikan output yang berujung pada surplus, sehingga volume ekspor Indonesia pun ikut terdongkrak signifikan.

"Karena apa? Kebijakan Bapak Presiden ke biofuel, harga naik kan? Benar enggak? Kalau ekspor ini dikurangi 5 juta (ton). Naik enggak harga (sawit) dunia? Naik kan? Karena harga naik dunia. Petani berproduksi. Surplus 6 juta ton. Jadi hebat kebijakan. Itu baru kebijakan," lanjutnya.

Selain mendorong ekspor, pemerintah juga tengah mempercepat pengembangan energi berbasis biofuel melalui program E20, yakni campuran etanol 20 persen dalam bensin. Amran menjelaskan kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju kemandirian energi nasional.

"Ini adalah etanol. Etanol itu dicampur dengan bensin 20 persen. Brasil sudah 27 persen. Bahkan itu bisa sampai 70 persen, bahkan menuju 100 persen. Artinya apa? Kedepan ini kalau kita konsisten," katanya.

Ia menyebut implementasi E20 berpotensi menggantikan bahan bakar minyak jenis bensin secara bertahap.
"Ya, itu menggantikan (BBM seperti Pertamax dan Pertalite). Itu belum mobil listrik. Tapi itu departemen lain, kementerian lain. Yang kita bahas adalah energi dari biofuel, dari nabati," ujar Amran.

Dari sisi pasokan, pemerintah memastikan ketersediaan bahan baku untuk pengembangan biofuel mencukupi. Bahan baku tersebut berasal dari komoditas dalam negeri seperti tebu, singkong, hingga kelapa sawit.

"Sudah pasti cukup. Kita tanam. Kita akan tanam sekarang. Penanaman tebu, penanaman singkong, penanaman sawit," katanya.

Ia juga menyinggung potensi bahan baku turunan seperti molases atau tetes tebu yang selama ini diekspor. Komoditas tersebut dinilai bisa diolah menjadi etanol dalam jumlah signifikan untuk mendukung program energi nasional.

Secara paralel, pemerintah disebut telah menyiapkan langkah konkret bersama BUMN pangan untuk mempercepat implementasi program tersebut. Fokus kebijakan ke depan tak cuma pada ketahanan pangan, tetapi juga transisi menuju kemandirian energi berbasis sumber daya domestik.

Data industri menunjukkan tren serupa. Produksi dan ekspor sawit Indonesia pada 2025 memang mengalami peningkatan, didorong oleh kenaikan harga global serta peningkatan permintaan produk turunan sawit.
Kenaikan ekspor juga diikuti pertumbuhan konsumsi biodiesel domestik yang meningkat seiring kebijakan pencampuran energi. (*)
Twitter Versi Lengkap