BERITA

Jumlah Anak Melebihi Harapan Bisa Turunkan Kebahagiaan

Editor Utama 07 April 2026 2 menit baca
CENDEKIA MEDIA - Memiliki banyak anak kerap dianggap sebagai sumber kebahagiaan. Namun, studi terbaru menunjukkan kondisi sebaliknya.

Sebuah studi terbaru dari University of Berlin mengungkap bahwa jumlah anak yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua dapat memengaruhi tingkat kebahagiaan mereka. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality menemukan bahwa orang tua yang memiliki anak lebih banyak dari yang diharapkan cenderung mengalami penurunan kesejahteraan psikologis.

"Fertility desires are a crucial factor for understanding whether having children makes a couple happy (Keinginan memiliki anak merupakan faktor krusial untuk memahami apakah memiliki anak membuat pasangan menjadi bahagia)," dikutip dari laman Psychology Today (7/4).

Riset tersebut menganalisia data lebih dari 23 ribu responden dalam German Socio-Economic Panel. Para peserta diminta menyebutkan jumlah anak ideal serta jumlah anak yang mereka miliki, kemudian dibandingkan dengan tingkat kepuasan hidup mereka.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar kelompok, baik yang tidak memiliki anak, memiliki anak sesuai keinginan, maupun yang memiliki anak lebih sedikit dari harapa, memiliki tingkat kebahagiaan yang relatif serupa.

Namun, kelompok orang tua dengan jumlah anak melebihi keinginan menunjukkan penurunan kesejahteraan yang signifikan di berbagai usia. Peneliti menduga kondisi ini berkaitan dengan tekanan ekonomi serta berkurangnya kebebasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Peneliti menduga kondisi ini berkaitan dengan tekanan ekonomi serta berkurangnya kebebasan pribadi. Selain itu, faktor seperti agama, norma sosial, dan kualitas layanan pengasuhan tidak ditemukan memiliki pengaruh besar terhadap hasil tersebut.

Temuan ini menegaskan bahwa bukan sekadar memiliki anak yang menentukan kebahagiaan, melainkan kesesuaian antara jumlah anak dan keinginan individu. Dengan kata lain, preferensi personal dalam membangun keluarga menjadi faktor kunci dalam kesejahteraan psikologis. (*)


Referensi:
Buchinger, L., M. D. Krämer, M. A. van Scheppingen, and D. Gerstorf. 2026. How a Mismatch Between Actual and Desired Fertility Relates to Well-Being Across Adulthood. Journal of Personality 1–14.
Baca di sini
Twitter Versi Lengkap