BERITA

Negosiasi Nuklir AS-Iran Gagal, Israel Diuntungkan

Editor Utama 14 April 2026 2 menit baca
CENDEKIA MEDIA - Negosiasi terkait senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah kedua pihak gagal mencapai kesepakatan. Perundingan, pada Sabtu (11/4) di Islamabad, gagal meredakan ketegangan dan justru berakhir tanpa hasil konkret.

Wakil Presiden JD Vance, kepala delegasi AS, mengatakan bahwa hasil perundingan yang gagal tersebut akan berdampak buruk bagi Iran. "Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran jauh lebih daripada bagi AS," katanya kepada wartawan sesaat sebelum ia meninggalkan Islamabad.

"Jadi kami kembali ke AS tanpa mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kami," tambahnya, dikutip dari Reuters, Selasa (14/4).

Dalam prosesnya, AS dan Iran masih bersikukuh pada kepentingan masing-masing, terutama terkait program pengembangan nuklir. Dilansir The Times, Iran tidak menyetujui sejumlah tuntutan utama AS, seperti penghentian total pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir utama, serta pemindahan stok uranium yang telah diperkaya keluar dari Iran.

"Pihak AS akhirnya gagal memperoleh kepercayaan delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini," ujar Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf.

Menurutnya, Iran telah dua kali dikhianati oleh AS saat perundingan yang membahas program nuklir pada perang 12 hari Iran vs Israel pada Juni 2025.

Namun, saat perang, AS menyerang Iran dan menghancurkan sejumlah situs nuklir Teheran untuk yang pertama.

Sehingga, Qalibaf menyatakan Teheran meminta jaminan bahwa perang benar-benar berakhir kali ini dan serangan tidak akan kembali terjadi setelah mereka memberi konsesi.

Sebelumnya, Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan tidak ada negara yang dapat mencabut hak Republik Islam untuk melakukan pengayaan nuklir.

"Dasar dari industri nuklir adalah pengayaan. Apa pun yang ingin dilakukan dalam proses nuklir, diperlukan bahan bakar nuklir," kata Eslami, seperti dikutip Etemad pada Kamis (19/2).

"Program nuklir Iran berjalan sesuai aturan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan tidak ada negara yang dapat mencegah Iran memanfaatkan teknologi ini secara damai," tambah dia, dikutip AFP.

Kegagalan negosiasi ini dinilai menguntungkan Israel, yang sejak awal menentang kesepakatan terkait program nuklir Iran. ABC News melaporkan Israel langsung mempersiapkan pasukannya terkait kemungkinan gelombang serangan baru terhadap Iran setelah negosiasi AS-Teheran gagal.

Kondisi tersebut berpotensi memperburuk stabilitas di Timur Tengah. Tanpa adanya kesepakatan nuklir, hubungan AS dan Iran diperkirakan tetap tegang, dengan risiko eskalasi konflik yang masih terbuka di masa mendatang. (*)
Twitter Versi Lengkap