BERITA

Opini: Ramalan JK tentang Terjadinya "Chaos"

Admin-Editor 31 Maret 2026 3 menit baca
Jusuf Kalla
Oleh: Pepih Nugraha

Muhammad Said Didu membawa kabar dari kediaman Jusuf Kalla (JK). Sebuah "ramalan" tentang Juli-Agustus 2026 yang katanya akan menjadi neraka fiskal: defisit seribu triliunan rupiah, puskesmas tutup, hingga jalanan yang menganga tanpa perbaikan.

JK, politikus sepuh yang biasanya bicara tentang perdamaian, kini seolah-olah sedang menebar ancaman atas nasib ekonomi kita.

Pertanyaannya, perlukah seorang negarawan senior seperti JK menebar aroma pesimisme yang begitu pekat? Apakah ini sebuah peringatan tulus, ataukah ini adalah sebuah "agenda" yang dibungkus dengan pita keprihatinan?

JK bukan orang baru dalam urusan mencium arah angin. Ia adalah politikus yang tahu kapan harus diam dan kapan harus melempar granat kata-kata. Mengirim sembilan pesan rahasia lewat Said Didu untuk Prabowo Subianto —lengkap dengan daftar "tiga orang perusak" dan "tiga program bahaya"— adalah sebuah langkah teaterikal yang cerdas.

Secara satir, kita bisa melihat ini sebagai bentuk kasih sayang yang aneh. Menakut-nakuti rakyat dengan narasi "skenario neraka" agar sang Presiden mau membuka pintu lebar-lebar bagi nasehat sang senior.

JK ingin pemerintah tenang dalam mengambil keputusan, namun ia membocorkan eksistensi "pesan rahasia" itu ke publik lewat Said Didu.

Jika benar-benar rahasia, bukankah seharusnya ia sampai ke meja Prabowo tanpa perlu ada drama di media sosial atau podcast?

Menakut-nakuti adalah cara tercepat untuk mendapatkan perhatian, namun ia juga cara tercepat untuk meruntuhkan kepercayaan diri sebuah bangsa yang baru saja mencoba berdiri tegak.

Lalu, apa yang harus dilakukan Prabowo Subianto? Sang Jenderal kini berada di persimpangan jalan yang sunyi. Di satu sisi, ada "faksi pembisik" yang menurut Didu gemar memberi label pengkhianat pada pengkritik. Di sisi lain, ada para senior yang datang membawa "surat wasiat" berisi ramalan kiamat.

Prabowo tidak perlu menjadi reaktif. Jika ia terlalu mendengarkan narasi pesimistis JK, ia akan terjebak dalam kebijakan yang penuh ketakutan. 

Jika ia terlalu mendengarkan pembisiknya, ia akan buta pada lubang di depan mata. 

Langkah terbaik bagi Prabowo adalah memperlakukan sembilan pesan rahasia itu seperti menu restoran saja; ambil yang bergizi, buang yang beracun, dan jangan lupa memeriksa siapa koki yang memasaknya.

Seorang pemimpin besar tidak dibentuk oleh seberapa banyak ia menghindari krisis, melainkan oleh seberapa tenang ia menghadapi orang-orang yang meramalkan kehancurannya.

Mungkinkah ada agenda tertentu di balik prediksi pesimistis JK?

Tentu saja ada, dan agenda itu sangat manusiawi, yakni agenda untuk tetap relevan. Maksudnya begini, JK sedang menakut-nakuti Prabowo tentang kehancuran negara agar negara itu tidak benar-benar hancur. Ia menciptakan kegaduhan kecil untuk mencegah kegaduhan besar. 

Namun, dengan terus-menerus memposisikan diri sebagai "satu-satunya juru selamat" yang memegang kunci rahasia, para tokoh senior ini sebenarnya sedang melakukan hal yang sama dengan para pembisik di lingkaran Prabowo: mereka sama-sama ingin memegang kendali atas telinga sang Presiden.

Juli dan Agustus 2026 yang hanya lima bulan lagi mungkin tidak akan menjadi neraka seperti yang digambarkan.

Namun, ketakutan akan neraka itu telah berhasil membuat kita lupa, bahwa yang lebih berbahaya dari defisit seribu triliun rupiah adalah sebuah bangsa yang pemimpinnya tidak lagi berani melangkah. 

Tidak berani melangkah bagaimana? Karena terus-menerus dihantui oleh bayang-bayang kegagalan yang ditiupkan oleh kawan-kawannya sendiri.

***
Twitter Versi Lengkap