FAJAR.CO.ID - Menjelang April 2026, isu kenaikan harga BBM di Indonesia semakin menguat di tengah tekanan dari kondisi global yang memengaruhi harga minyak dunia. Saat ini, BBM non-subsidi sudah mengalami kenaikan, sementara pemerintah masih menahan harga BBM subsidi demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Data terbaru per Maret 2026 menunjukkan harga Pertalite yang disubsidi pemerintah masih stabil di Rp 10.000 per liter, dan Bio Solar subsidi di Rp 6.800 per liter. Sebaliknya, BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Dexlite sudah mengalami kenaikan harga masing-masing sekitar Rp 12.300 dan Rp 14.200 per liter.
Para analis memperkirakan BBM non-subsidi berpotensi mengalami kenaikan harga lagi pada April 2026. Hal ini didorong oleh konflik global, khususnya di Timur Tengah, yang menyebabkan gangguan distribusi minyak sehingga suplai menjadi ketat. Selain itu, harga minyak dunia diproyeksi mencapai USD 85 per barel pada tahun 2026, menurut laporan dari investor.id.
Harga minyak dunia yang terus meningkat menjadi sinyal kuat bahwa tekanan harga BBM di dalam negeri masih akan berlanjut.
Beberapa faktor utama mendorong potensi kenaikan harga BBM, antara lain harga minyak dunia yang semakin mahal, konflik global yang mengganggu distribusi minyak, melemahnya nilai tukar rupiah yang membuat impor BBM menjadi lebih mahal, serta beban subsidi negara yang semakin berat sehingga menekan APBN.
Menurut laporan Maybank Trade, menahan harga BBM subsidi terlalu lama berpotensi membebani keuangan negara secara signifikan.
Dikutip dari: Fajar.co.id - Sulsel
https://fajar.co.id/2026/03/30/prediksi-kenaikan-harga-bbm-2026-tekanan-global-dorong-potensi-naik-meski-subsidi-masih-ditahan/