CENDEKIAMEDIA, MAKASSAR - Pendiri Yayasan Ranu Prima Muhammad Ramli Rahim mengungkap perjalanan membangun Ranu Harapan Islamic School (RHIS) yang berawal dari satu ruang kelas sederhana. Kini, RHIS berkembang menjadi salah satu sekolah Islam di Makassar dengan jumlah peminat yang terus meningkat.
Cerita itu disampaikan Ramli saat memberikan sambutan dalam Wisuda Tahfidz Al-Qur'an RHIS 2026 di Hotel Claro Makassar, Jumat (17/7/2026). Dia mengaku awalnya tidak pernah membayangkan akan mendirikan sebuah sekolah.
"Saya waktu itu membuat kalkulasi sederhana tentang nilai kemanfaatan," kata Ramli.
Ramli menuturkan, ide mendirikan sekolah muncul saat dirinya memiliki sebuah bangunan di Jalan Gagak. Di saat yang sama, ketika menjabat Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), dia bekerja sama dengan Samsung menghadirkan program Samsung Smart Learning Class.
Saat itu, dia mulai membandingkan biaya menyekolahkan anaknya dengan biaya mendirikan sekolah sendiri. Menurutnya, membangun sekolah justru dapat memberi manfaat bagi lebih banyak orang.
"Saya bilang, biaya anak saya kalau sekolah di Atira hampir sama kalau saya bikin sekolah sendiri. Sementara saya bisa mengajak orang lain sekolah bersama anak saya," ujarnya.
Berbekal pengalaman mengelola sejumlah lembaga bimbingan belajar, Ramli kemudian merintis RHIS bersama rekannya, Askar. Saat itu, sekolah tersebut hanya memiliki satu ruang kelas.
"Ruangan cuma satu, mau bikin sekolah, ya rasanya hanya mimpi," kenangnya.
Meski dengan fasilitas terbatas, RHIS perlahan berkembang. Ramli mengatakan angkatan pertama sekolah itu mampu menunjukkan prestasi dengan diterimanya sejumlah alumni di sekolah dan perguruan tinggi ternama.
Dia mengaku terharu ketika bertemu kembali dengan salah seorang alumninya yang telah sukses. Momen itu menjadi pengingat perjalanan panjang yang telah dilalui RHIS.
"Tiba-tiba ada anak muda datang salaman, cium tangan sambil peluk. Dia bilang, 'Saya Aji, Pak, yang dulu sekolah di RIS'," tuturnya.
Ramli menilai keberhasilan para alumni membuktikan kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh kemewahan fasilitas. Menurutnya, semangat belajar menjadi faktor penting dalam meraih keberhasilan.
"Kalau alumni pertama saja yang fasilitasnya sangat terbatas bisa seperti mereka, InsyaAllah anak-anak yang sekarang belajar dengan fasilitas lebih baik juga bisa kuliah di perguruan tinggi terbaik di Indonesia, bahkan dunia," katanya.
Perjalanan RHIS juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Saat masih beroperasi di Jalan Gagak, sekolah itu kerap dilanda banjir ketika hujan deras.
"Air masuk ke ruang kelas, sementara pompa air berusaha mengeluarkannya," kenang Ramli.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak membuat yayasan menghentikan pengembangan sekolah. Yayasan Ranu Prima kemudian membeli sebuah hotel yang dialihfungsikan menjadi kampus RHIS hingga mampu menampung lebih banyak peserta didik.
Ramli mengatakan sejak awal RHIS dibangun dengan konsep yang berbeda dibanding sekolah lain. Menurutnya, diferensiasi menjadi kunci agar sekolah memiliki daya saing.
"Ketika kita membuat sekolah, kita harus punya perbedaan. Karena diferensiasi itulah yang membuat kita dipilih," ujarnya.
Selain mengembangkan kualitas pendidikan, RHIS juga menjalankan program sosial bagi siswa kurang mampu. Salah satunya dengan memberikan pendidikan gratis kepada anak yatim.
"Jika anak itu anak yatim, tidak usah tanya berapa yang harus dibayar," tegasnya. (*)