Cendekia Media

Breaking

Ketahanan Pangan RI Dipastikan Stabil Sepanjang 2026

Produksi dalam negeri menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas pasokan nasional.

Admin-Editor

Admin-Editor

13 April 2026, 07:25 · 2 menit baca

18
Ketahanan Pangan RI Dipastikan Stabil Sepanjang 2026
CENDEKIA MEDIA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan kondisi ketahanan pangan Indonesia berada dalam posisi kuat di tengah tekanan global dan potensi dampak perubahan iklim seperti El Nino.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa mayoritas kebutuhan pangan masyarakat masih mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri. Kondisi ini menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas pasokan nasional.

"Ketahanan pangan pokok strategis Indonesia tergolong kuat. Ini mengacu pada sebagian besar atau mayoritas kebutuhan konsumsi masyarakat ditopang dari produksi dalam negeri," ujarnya, Minggu (12/4).

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, dari total 10 komoditas pangan strategis, hanya sekitar dua hingga tiga komoditas yang masih bergantung pada impor. Sementara itu, sejumlah komoditas utama seperti beras, jagung, cabai, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula dipastikan dapat dipenuhi dari produksi domestik.

Produksi beras nasional juga menunjukkan tren positif. Pada tahun sebelumnya, produksi mencapai sekitar 34,7 juta ton dengan stok awal tahun 2026 mencapai sekitar 12 juta ton. Dengan kondisi tersebut, pemerintah memproyeksikan stok akhir beras pada 2026 dapat menyentuh angka 16 juta ton setelah dikurangi kebutuhan konsumsi tahunan sekitar 31,1 juta ton.

Pemerintah menargetkan peningkatan ketersediaan beras secara nasional pada 2026, dengan proyeksi carry over stock ke 2027 bisa mencapai hingga 16 juta ton. Angka tersebut dinilai besar dan mencerminkan ketahanan pangan yang semakin kuat.

Pemerintah turut memperkuat cadangan pangan melalui penyerapan gabah petani oleh Perum Bulog. Bahkan, sejak 2025, stok beras yang dikelola Bulog tidak lagi bergantung pada impor, melainkan sepenuhnya berasal dari produksi dalam negeri.

"Cadangan beras kita di Bulog sekarang ini mencapai lebih 4 juta ton. Kita akan menyerap lagi sampai 4 juta ton. Artinya dari sisi produksi, gabahnya sangat bagus," jelas Ketut.

Selain beras, komoditas jagung untuk pakan juga telah mencapai swasembada. Indonesia diketahui telah menghentikan impor jagung pakan sejak tahun lalu.

Meski demikian, beberapa komoditas seperti kedelai, bawang putih, dan daging sapi masih memerlukan pasokan impor, meskipun tidak dalam jumlah dominan.

Di sisi lain, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi dalam negeri untuk memperkuat kemandirian pangan, termasuk pada komoditas yang belum sepenuhnya swasembada.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas utama, terutama yang menjadi sumber karbohidrat dan protein.
"Jadi pangan yang dibutuhkan tubuh itu protein dan karbohidrat. Kita sudah swasembada hari ini," kata Amran Sulaiman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta (7/4). (*)

Baca versi AMP (cepat) →

Komentar (0)

Masuk untuk berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!