CENDEKIA MEDIA — Presiden Prabowo Subianto mendorong penguatan kerja sama currency swap sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam arahannya, Prabowo menilai penggunaan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara menjadi salah satu upaya penting untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional. Skema currency swap memungkinkan perdagangan bilateral dilakukan tanpa harus bergantung pada dolar AS sebagai mata uang perantara.
“Bapak Presiden juga mengarahkan bilateral currency swap untuk dilanjutkan dengan beberapa negara,” jelas Menteri Koodinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, usai mengikut Rapat Kerja Kabinet Merah Putih, di Istana Negara pada Rabu (8/4).
Kebijakan bilateral currency swap ini memungkinkan bank sentral untuk saling bertukar mata uang, demi mengurangi eksposur pada mata uang tertentu. Diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi internasional dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meminimalkan dampak gejolak global terhadap perekonomian domestik.
Menurut Airlangga, kerja sama ini juga sejalan dengan tren global di mana sejumlah negara mulai mengurangi dominasi dolar dalam perdagangan internasional. Indonesia pun didorong untuk memperluas kemitraan dengan berbagai negara melalui perjanjian serupa.
Selain itu, langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam sistem keuangan global serta meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan luar negeri.
Pemerintah akan terus menjajaki peluang kerja sama currency swap dengan negara mitra strategis guna mendukung ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi dunia. (*)
Dalam arahannya, Prabowo menilai penggunaan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara menjadi salah satu upaya penting untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional. Skema currency swap memungkinkan perdagangan bilateral dilakukan tanpa harus bergantung pada dolar AS sebagai mata uang perantara.
“Bapak Presiden juga mengarahkan bilateral currency swap untuk dilanjutkan dengan beberapa negara,” jelas Menteri Koodinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, usai mengikut Rapat Kerja Kabinet Merah Putih, di Istana Negara pada Rabu (8/4).
Kebijakan bilateral currency swap ini memungkinkan bank sentral untuk saling bertukar mata uang, demi mengurangi eksposur pada mata uang tertentu. Diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi internasional dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meminimalkan dampak gejolak global terhadap perekonomian domestik.
Menurut Airlangga, kerja sama ini juga sejalan dengan tren global di mana sejumlah negara mulai mengurangi dominasi dolar dalam perdagangan internasional. Indonesia pun didorong untuk memperluas kemitraan dengan berbagai negara melalui perjanjian serupa.
Selain itu, langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam sistem keuangan global serta meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan luar negeri.
Pemerintah akan terus menjajaki peluang kerja sama currency swap dengan negara mitra strategis guna mendukung ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi dunia. (*)