CENDEKIA MEDIA - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul meningkatnya kasus keracunan yang menimpa ribuan siswa di berbagai daerah.
Desakan itu mencuat setelah 72 siswa di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, mengalami keracunan usai menyantap menu MBG pada Jumat, 3 April 2026. Insiden tersebut menambah daftar panjang kasus serupa yang terjadi sejak awal tahun.
Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti menyatakan pemerintah selama ini lebih menitikberatkan pada jumlah penerima manfaat dalam menilai keberhasilan program, namun mengabaikan aspek keamanan pangan. Ia menilai tingginya angka keracunan justru menjadi indikator serius adanya persoalan dalam pelaksanaan program tersebut.
Dalam dua bulan pertama 2026, jumlah korban keracunan MBG tercatat mencapai 4.755 orang. Pada Januari terdapat 2.835 korban, sementara Februari mencatat 1.920 korban atau turun 32,2 persen. Namun secara rata-rata, angka korban per bulan mencapai 2.377,5 orang—lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahun 2025 sebesar 1.667,7 orang per bulan dari total 20.012 kasus.
FSGI menilai kenaikan rata-rata korban sebesar 42,56 persen menunjukkan kondisi yang memburuk. Penurunan jumlah kasus pada Februari disebut bukan karena perbaikan sistem, melainkan dipengaruhi periode libur Ramadan dan Idul Fitri.
Ketua Umum FSGI Fahriza Marta Tanjung menyebut berulangnya kasus keracunan menjadi bukti adanya celah dalam sistem pelaksanaan MBG, baik dari sisi pengawasan, kualitas makanan, kebersihan, maupun distribusi.
Menurut dia, setiap kasus keracunan tidak bisa dipandang sebagai insiden terpisah, melainkan bagian dari masalah struktural yang harus segera dibenahi. Tanpa evaluasi menyeluruh, risiko kejadian serupa dinilai akan terus berulang dengan jumlah korban yang lebih besar.
FSGI pun meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada perluasan cakupan program, tetapi juga memastikan standar keamanan pangan terpenuhi secara ketat di seluruh rantai distribusi. (*)