CENDEKIA MEDIA - Pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, hampir rampung. Sebanyak 163 unit huntara kini secara fisik telah siap digunakan oleh masyarakat.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Muhammad Tito Karnavian, menyebutkan jaringan listrik di lokasi sudah terpasang dan tinggal menunggu proses pengaktifan. Sementara itu, kebutuhan air bersih tengah dipenuhi melalui pembangunan sumur bor oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Ini adalah huntara yang dibangun oleh Bapak Menko Infra (Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono), 163 unit untuk masyarakat Lubuk Sidup. Kita lihat tempatnya sangat bagus, ada ketinggian. Listrik sudah masuk, tinggal on saja. Untuk air minum, tinggal air bersih menggunakan sumur bor dari BNPB," ujar Tito saat meninjau lokasi huntara, Sabtu (4/4).
Pemerintah menargetkan seluruh fasilitas pendukung, termasuk listrik dan air bersih, dapat selesai dalam waktu sekitar 10 hari ke depan. Setelah itu, warga terdampak akan mulai menempati hunian tersebut sebagai bagian dari proses pemulihan pascabencana.
Selain penyediaan tempat tinggal sementara, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan bagi penyintas. Bantuan tersebut meliputi uang lauk-pauk harian, dukungan ekonomi bagi keluarga, serta bantuan perabot rumah tangga guna menunjang kehidupan mereka selama masa pemulihan.
Secara keseluruhan, pembangunan huntara di sejumlah wilayah terdampak bencana di Sumatera menunjukkan progres signifikan. Dari total lebih dari 19 ribu unit yang direncanakan, sekitar 89 persen di antaranya telah berhasil diselesaikan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat pemulihan tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terdampak bencana.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Muhammad Tito Karnavian, menyebutkan jaringan listrik di lokasi sudah terpasang dan tinggal menunggu proses pengaktifan. Sementara itu, kebutuhan air bersih tengah dipenuhi melalui pembangunan sumur bor oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Ini adalah huntara yang dibangun oleh Bapak Menko Infra (Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono), 163 unit untuk masyarakat Lubuk Sidup. Kita lihat tempatnya sangat bagus, ada ketinggian. Listrik sudah masuk, tinggal on saja. Untuk air minum, tinggal air bersih menggunakan sumur bor dari BNPB," ujar Tito saat meninjau lokasi huntara, Sabtu (4/4).
Pemerintah menargetkan seluruh fasilitas pendukung, termasuk listrik dan air bersih, dapat selesai dalam waktu sekitar 10 hari ke depan. Setelah itu, warga terdampak akan mulai menempati hunian tersebut sebagai bagian dari proses pemulihan pascabencana.
Selain penyediaan tempat tinggal sementara, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan bagi penyintas. Bantuan tersebut meliputi uang lauk-pauk harian, dukungan ekonomi bagi keluarga, serta bantuan perabot rumah tangga guna menunjang kehidupan mereka selama masa pemulihan.
Secara keseluruhan, pembangunan huntara di sejumlah wilayah terdampak bencana di Sumatera menunjukkan progres signifikan. Dari total lebih dari 19 ribu unit yang direncanakan, sekitar 89 persen di antaranya telah berhasil diselesaikan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat pemulihan tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terdampak bencana.
Dalam peninjauan huntara di Desa Lubuk Sidup, Tito didampingi Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi, dan jajaran Forkopimda se-Kabupaten Aceh Tamiang. (*)