CENDIKIA MEDIA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,8% year-on-year. Angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom yang memproyeksikan inflasi di level 3,0%.
Kepala BPS menjelaskan bahwa inflasi yang rendah ini disebabkan oleh stabilitas harga pangan dan energi. "Harga beras, minyak goreng, dan bahan bakar relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu," katanya.
Dengan inflasi 2,8%, Indonesia menjadi negara dengan inflasi terendah di ASEAN. Negara-negara tetangga seperti Thailand dan Filipina mencatat inflasi di atas 4%, sementara Singapura dan Malaysia di level 3,5%.
Inflasi inti yang mencerminkan permintaan domestik juga tercatat rendah di level 2,5%. Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga dengan baik meskipun ada tekanan ekonomi global.
Ekonom dari berbagai bank menilai bahwa inflasi yang rendah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan. "Jika inflasi tetap terkendali, BI bisa mulai cut rate pada kuartal ketiga," kata seorang ekonom senior.
Sektor yang mengalami deflasi pada Maret adalah transportasi dan komunikasi seiring dengan penurunan harga tiket pesawat dan tarif telekomunikasi. Sementara sektor makanan dan minuman mengalami inflasi tipis di level 0,3%.
BPS memproyeksikan bahwa inflasi sepanjang tahun 2026 akan berada di kisaran 2,5-3,0%, masih dalam target pemerintah dan Bank Indonesia sebesar 3% plus minus 1%. (*)