CENDEKIA MEDIA - Amerika Serikat mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz setelah perundingan damai dengan Iran yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Presiden AS Donald Trump menyatakan langkah tersebut akan segera dilakukan oleh Angkatan Laut AS.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz akan dicegat. “Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses memblokade setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump melalui platform Truth Social, seperti dikutip The Telegraph, Minggu (12/04).
Kebijakan ini diambil setelah negosiasi selama sekitar 21 jam gagal mencapai titik temu. Terutama, terkait isu strategis antara kedua negara.
Selain melakukan blokade, Angkatan Laut AS juga diperintahkan untuk menghancurkan ranjau laut yang diduga dipasang di kawasan tersebut. Trump bahkan menyebut kemungkinan keterlibatan negara lain dalam operasi tersebut, meski tidak merinci pihak-pihak yang dimaksud.
Situasi di Selat Hormuz sendiri telah memanas sejak akhir Februari 2026, ketika konflik antara AS dan Iran meningkat menyusul serangan militer yang memicu gangguan besar pada jalur perdagangan energi global.
Langkah blokade ini berpotensi memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. (*)
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz akan dicegat. “Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses memblokade setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump melalui platform Truth Social, seperti dikutip The Telegraph, Minggu (12/04).
Kebijakan ini diambil setelah negosiasi selama sekitar 21 jam gagal mencapai titik temu. Terutama, terkait isu strategis antara kedua negara.
Selain melakukan blokade, Angkatan Laut AS juga diperintahkan untuk menghancurkan ranjau laut yang diduga dipasang di kawasan tersebut. Trump bahkan menyebut kemungkinan keterlibatan negara lain dalam operasi tersebut, meski tidak merinci pihak-pihak yang dimaksud.
Situasi di Selat Hormuz sendiri telah memanas sejak akhir Februari 2026, ketika konflik antara AS dan Iran meningkat menyusul serangan militer yang memicu gangguan besar pada jalur perdagangan energi global.
Langkah blokade ini berpotensi memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. (*)