CENDEKIA MEDIA - Pola makan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Studi terbaru mengungkap bahwa apa yang dikonsumsi sehari-hari dapat memengaruhi suasana hati, fungsi otak, hingga risiko gangguan mental.
Para ahli menegaskan bahwa makanan memiliki pengaruh luas terhadap berbagai sistem dalam tubuh. “Makanan yang kita konsumsi memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh, termasuk peradangan, stres oksidatif, mikrobioma usus, modifikasi epigenetik, dan neuroplastisitas," seperti yang dikutip dari Psychology Today, Minggu (12/4).
Sebuah penelitian dalam jurnal Nutrients menunjukkan bahwa pola makan sehat, seperti diet Mediterania mampu membantu mengurangi gejala depresi. Bahkan, dalam beberapa kasus memiliki efektivitas yang sebanding dengan penggunaan obat antidepresan. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa nutrisi memiliki peran penting dalam terapi kesehatan mental.
“Diet gaya Mediterania, yang kaya akan buah, sayuran, minyak zaitun, ikan, dan kacang-kacangan, menunjukkan bukti paling kuat dalam mendukung kesehatan mental. Berbagai uji coba terkontrol secara acak menunjukkan bahwa pola makan ini dapat menurunkan risiko depresi dan kecemasan. Manfaat ini kemungkinan berasal dari mekanisme antiinflamasi, antioksidan, dan vaskular yang secara langsung memengaruhi fungsi otak,," tulis Natalie Parletta dari University of South Australia dalam penelitiannya.
Fenomena ini mendorong berkembangnya bidang baru yang dikenal sebagai nutritional psychiatry, yaitu studi tentang hubungan antara makanan, nutrisi, dan kesehatan mental. Para ahli menemukan bahwa mikroorganisme dalam usus turut memengaruhi produksi zat kimia otak seperti serotonin dan GABA, yang berperan dalam mengatur emosi dan stres.
Selain itu, kualitas makanan juga terbukti berhubungan dengan risiko gangguan mental. Konsumsi makanan utuh seperti sayur, buah, ikan, dan biji-bijian dapat menurunkan risiko depresi, sementara makanan ultra-proses justru berkaitan dengan peningkatan masalah kesehatan mental.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa pola makan sehat bukan satu-satunya solusi. Perawatan kesehatan mental tetap memerlukan pendekatan menyeluruh, termasuk terapi medis dan dukungan profesional. Namun, memperbaiki pola makan dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan mental. (*)
Para ahli menegaskan bahwa makanan memiliki pengaruh luas terhadap berbagai sistem dalam tubuh. “Makanan yang kita konsumsi memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh, termasuk peradangan, stres oksidatif, mikrobioma usus, modifikasi epigenetik, dan neuroplastisitas," seperti yang dikutip dari Psychology Today, Minggu (12/4).
Sebuah penelitian dalam jurnal Nutrients menunjukkan bahwa pola makan sehat, seperti diet Mediterania mampu membantu mengurangi gejala depresi. Bahkan, dalam beberapa kasus memiliki efektivitas yang sebanding dengan penggunaan obat antidepresan. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa nutrisi memiliki peran penting dalam terapi kesehatan mental.
“Diet gaya Mediterania, yang kaya akan buah, sayuran, minyak zaitun, ikan, dan kacang-kacangan, menunjukkan bukti paling kuat dalam mendukung kesehatan mental. Berbagai uji coba terkontrol secara acak menunjukkan bahwa pola makan ini dapat menurunkan risiko depresi dan kecemasan. Manfaat ini kemungkinan berasal dari mekanisme antiinflamasi, antioksidan, dan vaskular yang secara langsung memengaruhi fungsi otak,," tulis Natalie Parletta dari University of South Australia dalam penelitiannya.
Fenomena ini mendorong berkembangnya bidang baru yang dikenal sebagai nutritional psychiatry, yaitu studi tentang hubungan antara makanan, nutrisi, dan kesehatan mental. Para ahli menemukan bahwa mikroorganisme dalam usus turut memengaruhi produksi zat kimia otak seperti serotonin dan GABA, yang berperan dalam mengatur emosi dan stres.
Selain itu, kualitas makanan juga terbukti berhubungan dengan risiko gangguan mental. Konsumsi makanan utuh seperti sayur, buah, ikan, dan biji-bijian dapat menurunkan risiko depresi, sementara makanan ultra-proses justru berkaitan dengan peningkatan masalah kesehatan mental.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa pola makan sehat bukan satu-satunya solusi. Perawatan kesehatan mental tetap memerlukan pendekatan menyeluruh, termasuk terapi medis dan dukungan profesional. Namun, memperbaiki pola makan dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan mental. (*)