CENDEKIA MEDIA - Suntik peptida kini mencuri perhatian sebagai tren baru anti-aging. Namun, di balik popularitasnya, para ahli mengingatkan adanya risik.
Suntik peptida diklaim mampu memperbaiki kulit, meningkatkan produksi kolagen, hingga memperlambat proses penuaan. Namun, klaim tersebut masih berasal dari penelitian pada hewan atau studi laboratorium.
"Untuk banyak peptida yang dipromosikan untuk anti-aging dan kesehatan kulit, bukti berkualitas tinggi pada manusia masih terbatas," tulis laporan tersebut seperti dikutip dari ScienceAllert, Minggu (12/4).
Peptida sendiri merupakan rantai pendek asam amino yang berfungsi sebagai “pembawa pesan” dalam tubuh dan berperan dalam berbagai proses biologis, termasuk regenerasi jaringan dan pengendalian peradangan.
Namun, di balik popularitasnya, para ahli mengingatkan bahwa bukti ilmiah terkait manfaatnya masih terbatas.
"Klaim bahwa peptida seperti GHK-Cu, BPC-157, dan TB-500 dapat membantu meregenerasi dan memperbaiki jaringan serta meredakan peradangan masih didasarkan pada sejumlah kecil studi laboratorium—pada sel atau hewan, bukan pada manusia," tulis laporan tersebut.
Selain keterbatasan bukti, faktor keamanan juga menjadi perhatian utama. Banyak produk peptida dijual secara bebas tanpa pengawasan ketat, sehingga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Para ahli juga menyoroti meningkatnya budaya penggunaan injeksi dalam industri kecantikan, yang membuat masyarakat semakin terbuka terhadap praktik eksperimental seperti penggunaan peptida.
Meski beberapa jenis peptida telah digunakan dalam dunia medis dengan pengawasan ketat, penggunaan untuk tujuan anti-aging masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Hingga saat ini, belum ada cukup bukti kuat yang memastikan efektivitas maupun keamanannya dalam jangka panjang. (*)
Suntik peptida diklaim mampu memperbaiki kulit, meningkatkan produksi kolagen, hingga memperlambat proses penuaan. Namun, klaim tersebut masih berasal dari penelitian pada hewan atau studi laboratorium.
"Untuk banyak peptida yang dipromosikan untuk anti-aging dan kesehatan kulit, bukti berkualitas tinggi pada manusia masih terbatas," tulis laporan tersebut seperti dikutip dari ScienceAllert, Minggu (12/4).
Peptida sendiri merupakan rantai pendek asam amino yang berfungsi sebagai “pembawa pesan” dalam tubuh dan berperan dalam berbagai proses biologis, termasuk regenerasi jaringan dan pengendalian peradangan.
Namun, di balik popularitasnya, para ahli mengingatkan bahwa bukti ilmiah terkait manfaatnya masih terbatas.
"Klaim bahwa peptida seperti GHK-Cu, BPC-157, dan TB-500 dapat membantu meregenerasi dan memperbaiki jaringan serta meredakan peradangan masih didasarkan pada sejumlah kecil studi laboratorium—pada sel atau hewan, bukan pada manusia," tulis laporan tersebut.
Selain keterbatasan bukti, faktor keamanan juga menjadi perhatian utama. Banyak produk peptida dijual secara bebas tanpa pengawasan ketat, sehingga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Para ahli juga menyoroti meningkatnya budaya penggunaan injeksi dalam industri kecantikan, yang membuat masyarakat semakin terbuka terhadap praktik eksperimental seperti penggunaan peptida.
Meski beberapa jenis peptida telah digunakan dalam dunia medis dengan pengawasan ketat, penggunaan untuk tujuan anti-aging masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Hingga saat ini, belum ada cukup bukti kuat yang memastikan efektivitas maupun keamanannya dalam jangka panjang. (*)